Kacau! Alat Ini Dituding Jadi Biang Kerok Kecelakaan MotoGP
BALATON PARK – Balapan MotoGP Hungaria 2026 di Sirkuit Balaton Park kemarin menyisakan drama besar. Bukan cuma soal siapa yang menang, tapi insiden tabrakan beruntun di tikungan pertama (Turn 1) langsung jadi buah bibir.
Banyak yang menyalahkan rider Aprilia, Jorge Martin, yang dianggap tampil terlalu agresif hingga menyenggol Marco Bezzecchi. Namun, pembalap kawakan Maverick Vinales justru punya sudut pandang lain yang mengejutkan. Menurutnya, ada “musuh dalam selimut” yang jauh lebih berbahaya ketimbang kesalahan rider: yaitu perangkat pengatur ketinggian motor (ride height/holeshot device)!
Sistem Pengereman Jadi ‘Eror’ Gara-Gara Gadget Motor?
Vinales secara blak-blakan menyebut kalau perangkat elektronik penurun suspensi ini memainkan peran sangat besar dalam menciptakan chaos saat start.
Menariknya, Vinales memperjelas bahwa masalah utamanya bukan karena motor melesat terlalu cepat saat akselerasi. Masalahnya justru muncul saat para pembalap mencoba mematikan sistem tersebut menjelang tikungan pertama.
“Untuk melepaskan roda depan (menonaktifkan perangkat), Anda harus mengerem dengan sangat keras,” ujar Maverick Vinales. “Kadang kalau tidak berhasil, Anda terpaksa melepas rem sedikit, maju lagi, lalu ngerem mendadak lagi.”
Bayangkan saja, di tengah kerumunan puluhan motor yang melaju di atas 300 km/jam, ada pembalap yang pengeremannya tidak menentu hanya demi memastikan gadget motornya mati. Hasilnya? Senggolan massal pun tak terhindarkan.
Pro dan Kontra di Paddock: Haruskah Dilarang Sekarang?
Sebenarnya, regulasi MotoGP sudah ketok palu bahwa semua jenis perangkat pengatur ketinggian kendaraan ini akan dilarang total mulai musim 2027.
Namun, melihat kecelakaan mengerikan di Catalunya dan yang terbaru di Balaton Park Hungaria, dorongan untuk melarang alat ini secepatnya langsung menguat. Meski begitu, bos tim Aprilia, Massimo Rivola, meminta semua pihak untuk kepala dingin dan tidak bereaksi berlebihan.
-
Sisi Vinales: Buang alat itu sekarang, maka keamanan di tikungan pertama akan langsung meningkat drastis.
-
Sisi Massimo Rivola: Jangan buru-buru melarang tanpa tes matang. Kalau alat itu dilarang tiba-tiba dan kecelakaan tetap terjadi, orang-orang bakal rindu dan menganggap alat itu sebenarnya aman.
Solusi Alternatif: Tiru Formasi Grid F1?
Selain urusan teknologi, MotoGP juga sedang mengkaji opsi radikal lain untuk mengurangi kepadatan di tikungan pertama, salah satunya dengan mengubah formasi start.
Jika sekarang grid MotoGP berisi 3 pembalap per baris, ada usulan untuk mengubahnya menjadi 2 pembalap per baris seperti di Formula 1. Langkah ini dinilai bisa memberi ruang lebih lega bagi para pembalap saat melakukan aksi braking pertama kali.
Gimana Menurut Kamu?
Apakah kamu setuju kalau teknologi ride height device ini segera dihapus demi keselamatan para pembalap, atau kamu merasa kecelakaan kemarin murni karena human error dari Jorge Martin? Yuk, tulis opini panas kamu di kolom komentar bawah!

