Buang Skripsi, Perpustakaan UIN Alauddin menuai kecaman di media sosial

siang mas daeng sekalian.
Sebelumnya R2M turut prihatin terhadap beberapa berita yang sangat menyudutkan instansi kerja R2M ini, bahkan sekelas fajar.co.id pun menyebarkan isu negatif tentang hal tersebut.perpus2Tapi R2M berharap masyarakat, mahasiswa dan khalayak dunia maya lebih bijak dalam menanggapi hal-hal demikian terutama yang sangat-sangat awam terhadap yang namanya dunia perpustakaan. Perpustakaan ada ilmu tersendirinya loh, bukan sekedar mengoleksi atau menumpuk buku, majalah, koran, tesis, skripsi dan dokumentasi yang lainnya dalam suatu tempat atau gedung. Namun dalam ilmu perpustakaan ada istilah PENYIANGAN atau WEEDING, dan inilah proses yang sedang terjadi tersebut.perpus1Nah, disini R2M berharap postingan ini menjadi berita yang mengimbangi berita-berita negatif tersebut. Teringat dulu UNHAS pun pernah mendapat kecaman gara-gara proses WEEDING ini dan supaya lebih jelas, berikut petikan kepala perpustakaan UIN alauddin Bapak Quraisy Mathar tentang kejadian yang jadi trending topik ini.

Ini status akhir saya utk proses kegiatan penyiangan karya ilmiah yg ternyata menjadi trending topic dlm skala kecil di kampus UIN-ALA (Alauddin).
Kegiatan penyiangan (weeding) adalah kegiatan yg seharusnya rutin dan dilaksanakan secara berkala. Bukan hanya utk karya ilmiah, namun juga utk koleksi yg lain, spt buku, jurnal, majalah, suratkabar dsb. Penyiangan dilakukan salah satunya didasari oleh bertambahnya koleksi yg pasti tdk sebanding dgn pertambahan rak, ruangan, dan efisiensi tata kelola. Olehnya itu seluruh perpustakaan pasti melaksanakan kegiatan penyiangan. Saya dikontak beberapa kawan pengelola perpustakaan yg lain dan berkata “is… kamu bikin penyiangan koq hebohnya minta ampun”. Saya hanya menjawab bahwa kegiatan ini baru pertama kali dilaksanakan sejak UIN (dulu IAIN) berdiri, makanya mungkin agak ramai.

Salah seorang mahasiswa yg merespon negatif dlm status fb, berjumpa saya siang tadi dan mengatakan bahwa dia sendiri tak lagi menyimpan skripsinya. Wah, dia sendiri tak menghargai keberadaan skripsinya, tapi justru sangat keras berkomen saat skripsi di perpustakaan harus dimusnahkan dlm kegiatan penyiangan.

Kegiatan penyiangan di UIN-ALA menjadi luar biasa, sebab pertama kali dilaksanakan langsung menjadi trending topic dan diliput banyak media online dan cetak. Ah, kupikir setidaknya ini menjadi promosi gratis utk opac.uin-alauddin.ac.id yg akan menjadi ujung dari kegiatan ini. Nantinya seluruh pemustaka akan mengakses online public acces catalogue tsb utk mendeteksi keberadaan seluruh koleksi di perpustakaan via online, termasuk karya ilmiah yg sedang mulai diinput. Memang akan butuh waktu namun harus dimulai dari sekarang. Nantinya utk karya ilmiah yg muncul di opac hanya sebatas deskripsi dan abstrak, sementara utk fulltextnya para pengakses harus mengunjungi perpustakaan dan membaca via komputer offline yg akan segera kami siapkan juga. Itupun yg bisa mengakses fulltextnya hanya yg terdaftar sbg anggota perpustakaan.
Kehebohan berikutnya adalah saat muncul persoalan bagaimana menurunkan skripsi yg akan disiangi dari lantai 4. Gedung kita belum memiliki lift, walaupun ruang utk lift sudah tersedia. Simulasi menggunakan katrol juga tetap tak efektif. Coba dikerja borongan dgn cara diangkat per orang butuh puluhan kali bolak balik lantai 4-1. Akhirnya alternatif terakhir yg digunakan dgn cara mengepak lalu “membuang” dari jendela. Di sinilah mulai muncul persoalan, sebab beberapa kepak bungkusannya hancur saat mendarat di tanah. Kepak itulah yg selanjutnya diupload oleh beberapa kawan di medsos dan tetap akan saya sebut memang dibuang fisiknya, tapi tdk isinya. Apapun pilihan cara utk menurunkannya, tetap saja penyiangan itu berujung pemusnahan fisik. Utk karya ilmiah, penyiangannya dilakukan dgn menyelamatkan beberapa karya ilmiah dgn cara scan lalu disimpan dlm database perpustakaan. Perlu diketahui bahwa lantai 4 perpustakaan pernah mengalami kebocoran hebat, bahkan sampai air menggenang di lantai 4. Beberapa karya ilmiah basah dan lembab tak tertolong. Belum lagi karya ilmiah tahun 70 dan 80an yg masih juga disimpan dlm kondisi yg sudah rusak. Pembaca dari pergurian tinggi lain tentu akan tersenyum saat mengetahui bahwa perpustakaan UIN-ALA masih mendisplay karya ilmiah tahun 70 dan 80an. UIN-Malang saja hanya mendisplay 2 tahun terakhir, UIN-Riau mendisplay 5 tahun terakhir, UNHAS mendisplay 2005, UMI kalau tak salah 5 tahun terakhir, UNM kalau tak salah per 2009. Lalu bagaimana dgn UIN-ALA? Kita mendisplay seluruh skripsi sejak berdirinya UIN yg dulu masih bernama IAIN. Pengelola perpustakaan PT lain tentu akan tersenyum membaca hal tsb.
Lalu siang tadi saya pun mencoba berkeliling ke beberapa perpustakaan fakultas utk mengecek tata kelola karya ilmiah yg dipajang di sana. Ternyata, selain fakultas Adab dan Humaniora, seluruh karya ilmiah di perpustakaan fakultas jauh lebih mengenaskan dibandingkan dgn yg di UPT. Mestinya karya ilmiah yg di fakultas itupun harus segera dialihmediakan lalu fisiknya disiangi juga.

Satu catatan akhir saya, persoalan ini sebetulnya adalah bagian dari proses dimulainya perubahan cara pandang kita ttg perpustakaan. Bulan September nanti, perpustakaan UIN-ALA akan menjadi tuan rumah konferensi perpustakaan digital se-Indonesia. Sudah saatnya, bersamaan dgn kegiatan penyiangan di perpustakaan, kita pun menyiangi cara pandang kita tentang perpustakaan dan sistem pengelolaan, serta bentuk alihmedia beberapa koleksinya. Semoga dgn blow up medsos ini, kita semua menjadi lebih punya hasrat utk mengunjungi perpustakaan.

Buat seluruh kawan yang telah memberi support, terima kasih yang sebesar-besarnya atas masukan dan dukungan ta. Sementara buat para kawan yg memberi kritik, bahkan yang paling tajam sekalipun, mohon maaf atas kekurangnyamanan ini dan saya tetap mengapresiasi seluruh kritikanta sebagai bagian dari rasa memiliki kampus secara bersama. Saya tdk lagi akan mengomentari segala bentu komentar balik tentang proses penyiangan yang masih akan terus dilaksanakan, sebab kami akan melakukan kerja kerja selanjutnya.

Tabe hormatku untuk semua. Salam dan sukseski selalu.
Peradaban selalu dimulai dari PERPUSTAKAAN.

Gimana sob? sudah mengerti atau belum, saya kira cukup jelas dalam kutipan di atas.

Advertisements

2 thoughts on “Buang Skripsi, Perpustakaan UIN Alauddin menuai kecaman di media sosial

  1. kalau disimpan dalam bentuk digital kan lebih baik… lebih hemat rak… mereka sepertinya menilai dari kulitnya saja… tidak melihat tujuannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *